Share This Article
15 tahun lebih konsep Waterfront City Bandar Lampung sudah digulirkan. Tapi geraknya berjalan di tempat. Sementara zaman terus bergulir. Pembangunan dan pariwisata di Lampung bergeliat. Gubernur Mirza menilai, sudah saatnya untuk kembali menoleh ke master plan tersebut.
(Onoff.id): Gubernur Rahmat Mirzani Djausal melihat kawasan pesisir Bandar Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Terlebih, imbuhnya, Ibu kota Provinsi Lampung ini memiliki keterbatasan ruang untuk berkembang. Salah satu opsi yang bisa dijadikan potensi solusi adalah kembali membuka konsep lama Waterfront City.

Hanya saja, sambung dia, untuk dapat merealisasikan rencana besar tersebut tidak bisa hanya ditopang sendiri oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung.
“Harus ada kesepakatan dari banyak pihak. Pemprov harus sepakat dengan masterplan ini, swasta pun demikian. Kemudian dilebarkan lagi dengan keterlibatan pemerintah pusat, BUMN, BUMD, swasta hingga masyarakat,” urai Gubernur Mirza.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Seminar Nasional bertema “Menata Pesisir Mewujudkan Waterfront City untuk Lampung Maju”. Diskusi tersebut digelar oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Lampung bersama Ikatan Alumni Universitas Islam Indonesia (UII) di Ballroom Swiss-Belhotel, Bandar Lampung, Kamis (20 Agustus 2026).
Sedangkan untuk mewujudkan master plan Waterfront City Bandar Lampung itu sendiri, sambung Mirza, bukan perkara sederhana. Apalagi, ada banyak kepentingan di sepanjang kawasan pesisir tersebut.
Seperti ketersediaan kawasan pelabuhan, kawasan industri, permukiman nelayan, kawasan perlindungan setempat, mangrove hingga kepemilikan lahan swasta.
“Kuncinya kolaborasi. Terbangun komitmen bersama untuk merealisasikan masterplan yang telah disusun,” tegas Mirza.
Kawasan Wisata Terpadu
Pada kesempatan itu Gubernur Mirza memaparkan gambaran besar yang sedang direncanakan Pemprov Lampung. Menurutnya, keberadaan Waterfront City di Bandar Lampung baru merupakan satu spot dari konteks besar mengintegrasikan seluruh kawasan wisata terpadu.
Kawasan yang dimaksudnya mencakup penataan kawasan pesisir yang terbentang dari Kabupaten Tanggamus, Pesawaran, Kota Bandar Lampung, hingga Kabupaten Lampung Selatan.
“Dalam perencanaan ini. Masing-masing kawasan akan dikembangkan sesuai karakteristik,” katanya.
Untuk kawasan Lampung Selatan, jelas Mirza, akan diarahkan menjadi kawasan wisata eksklusif. Sedangkan Pesawaran dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu. “Bandar Lampung diarahkan menjadi kawasan pesisir atau waterfront city,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, konsep tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan potensi pariwisata Lampung yang menurut Mirza belum mampu memberi dampak maksimal terhadap perekonomian daerah.
Dia lantas menguraikan, sejauh ini wisatawan nusantara yang datang ke Lampung rata-rata hanya tinggal 1 sampai 3 hari. Selama itu pengeluarannya tak lebih Rp2 juta.
“Kondisi ini membuat belanja wisatawan yang masuk ke Lampung belum maksimal,” ucapnya.
Lantas apa penyebab semua itu? Mirza menyebut salah satu persoalan utama adalah minimnya pengalaman wisata (experience) yang dapat membuat wisatawan bertahan lebih lama.

Gubernur juga menarasikan, selama ini wisatawan yang datang ke Lampung karena melihat destinasi menarik melalui Instagram, TikTok maupun media sosial. Namun, setelah mengunjungi destinasi yang dituju, umumnya wisatawan langsung kembali ke tempat asalnya. Mereka tidak bertahan lebih lama lagi di Lampung lantaran tidak memiliki banyak pilihan aktivitas lain.
“Orang datang ke Lampung karena ada pantai bagus. Terus numpang menginap di Bandar Lampung. Abis datang ke tempat yang dituju, mereka langsung balik. Enggak ngapa-ngapain lagi, karena memang enggak ada apa-apa lagi,” kata Gubernur.
Oleh karenanya, sambung Mirza, Pemprov Lampung terus mematangkan rencana terintegrasinya seluruh kawasan wisata, khususnya di wilayah pesisir. Terutama terealisirnya konsepsi Waterfront City Bandar Lampung. (*)

